Baru saja kompetisi internasional selesai dihelat di negeri kita, kompetisi yang mempertarungkan cabang olah raga yang sebenarnya 'sangat Indonesia'. Yap, Indonesia Open sebagai salah satu seri kompetisi internasional bergengsi di cabang olahraga bulutangkis telah sukses dihelat di negeri kita.

Cabang olahraga bulutangkis memang layak untuk disebut 'sangat Indonesia', mulai dari sejarah prestasi para atlet nasional yang langganan menjadi juara di kompetisi internasional bahkan olahraga inilah yang mempersembahkan emas bagi bangsa ini di Olimpiade. Juga kalau kita melihat tradisi bermain bulutangkis di bangsa kita, lomba bulutangkis termasuk perlombaan yang sering kita lihat di mulai di level antar RT ataupun kampus-kampus. Juga cukup mudah di masyarakat kita untuk menemukan lapangan bulutangkis. Namun kita semua tahu bagaimana prestasi bangsa kita yang diwakili oleh atlet-atlet nasional pelatnas bulutangkis kita. Tak satupun gelar juara kita peroleh.
Puasa gelar di Indonesia Open inipun bahkan sudah terjadi selama tiga tahun. Terakhir kita meraih juara tahun 2008 melalui Sony Dwi Kuncoro ditunggal putra dan Vita/Liliyana Natsir di ganda putri. Setelah itu, hingga kini para atlet wakil bangsa belum pernah lagi mempersembahkan gelar juara di kompetisi tersebut.
Bukan hanya di kompetisi ini, dalam ranking pemain bulutangkis dunia saat ini kita hanya di posisi ketiga untuk cabang tunggal putra yaitu Taufik Hidayat dibelakang pemain Malaysia dan China, juga posisi kedua untuk ganda Campuran Tantowi/Liliana dibelakang pasangan dari China.
Lemahnya prestasi nasional bukan hanya di olahraga bulutangkis, bahkan yang lebih ramai dibicarakan adalah prestasi sepakbola kita. Masih kuat dalam ingatan kita bagaimana salah satu rekan sebangsa kita, Hendri Mulyadi, masuk ke lapangan ketika Tim Nasional kita sedang mengalami kekalahan 1-2 dari Oman dalam Kualifikasi Piala Asia.
Kelemahan-kelemahan ini biasanya mengundang komentar dan kritik kita, bahkan sebagian besar bernada ejekan. Tak lupa juga harapan agar orang-orang yang memiliki posisi penting dalam cabang-cabang olahraga tersebut untuk mengundurkan diri. Banyak juga ide atau skenario yang kita keluarkan untuk menghilangkan kelemahan tersebut dan meraih kejayaan di cabang-cabang olahraga terkait. Dalam ide atau skenario itupun seringkali kita menganggap bahwa kondisi atau fasilitas nasional bukan faktor utama bagi kesuksesan cabang-cabang seperti bulutangkis atau sepakbola.
Lalu bagaimana dengan lapangan kita (sebagai pelajar)?
Berikut reportase yang dibuat oleh saudara Fithra Faisal Hastiadi pada kuliah Umum Profesor Ginanjar Kartasasmita Senin, 21 Februari 2011 di KBRI dengan tema Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.
Selamat menikmati.
Harapan untuk Indonesia yang Lebih Baik
Sepanjang pemaparannya, Profesor Ginanjar lebih banyak bercerita mengenai kondisi umum bangsa Indonesia. Dalam prolognya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia kini telah berubah dan berkembang menjadi negara yang lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari indikator-indikator kesejahteraan yang menunjukkan tren peningkatan. Terlepas dari polemik yang melanda keabsahan data-data tersebut, setidaknya data ini bisa sedikit mengkonfirmasi terjadinya trasnformasi Indonesia yang mencakup aspek-aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya ujarnya seraya menunjukkan mimik serius.
Dalam hal hubungan kerjasama Indonesia-Jepang, beliau menuturkan bahwa Indonesia telah menjadi partner yang sederajat. Hubungan sub-ordinasi yang telah berjalan selama puluhan tahun sudah selayaknya ditinjau ulang. Dalam beberapa kesempatan bermuhibah dengan pejabat-pejabat di Jepang, beliau selalu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah partner strategis dari Jepang dan tidak lagi membutuhkan belas kasihan. Official Development Assistance (ODA) (bantuan utang luar negeri dengan bunga ringan dan masa jatuh tempo yang panjang-red) pun sudah tidak layak lagi diterima Indonesia. Dengan tingkat pendapatan perkapita yang hampir menyentuh US$3000 telah menyiratkan naiknya derajat Indonesia. Pola kerjasama Indonesia-Jepang diharapkan bisa beredar pada sektor perdagangan dan investasi, dimana kedua sektor ini merupakan mesin yang dapat menggiatkan perekonomian diantara dua negara ini. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa Jepang memiliki kepentingan untuk melihat ASEAN, khususnya Indonesia untuk menjadi lebih kuat dan makmur, demi terciptanya stabilitas di wilayah Asia Timur.
Tatkala bertutur mengenai aktor-aktor yang berperan dalam kerja sama Indonesia-Jepang, setidaknya beliau mengidentifikasi dua aktor utama yaitu pemerintah dan swasta. Dalam hal ini, Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator sementara swasta lebih berperan ke masalah teknis. Dari sinilah kemudian governance ini didefinisikan secara utuh, yaitu seni memainkan peran. Pemerintah sebagai wasit, sangatlah tidak elok jika ikut serta turun dalam permainan, sebaliknya pihak swasta tidak perlu menguras energi untuk menciptakan peraturan dan berperan menjadi wasit.
Read more...
在日インドネシア留学性協会
Tokyo Indonesian Embassy (インドネシア大使館)
5-2-9 Higashigotanda, Shinagawa-ku Tokyo
(〒141-0022 東京都品川区東五反田5-22-9)
Phone: +81-(03)-3441-4201
Email:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
URL: http://www.ppijepang.org
Akun: Zainichi indonesia ryu-gakusei kyo-kai
Nama Bank: Japan Post Bank
Nama Cabang: Zero Ichi Hachi Ten
No. Rekening: 8568385
No. Cabang: 10190
Bangou: 85683851
名前:在日インドネシア留学生協会
(ザイニチインドネシアリュウガクセイキョウカイ)
銀行:ゆうちょ銀行
店 名:〇一八店
口座番号:8568385
記号:10190
番号:85683851