PPI Jepang

Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang atau disingkat PPI Jepang merupakan organisasi yang beranggotakan pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Jepang. Organisasi ini didirikan di Tokyo pada tanggal 24 Juni 1953.

Follow Us

PPI Jepang Follow us Milis PPI Jepang

Indonesia Open dan 'Atlet Nasional'

Baru saja kompetisi internasional selesai dihelat di negeri kita, kompetisi yang mempertarungkan cabang olah raga yang sebenarnya 'sangat Indonesia'. Yap, Indonesia Open sebagai salah satu seri kompetisi internasional bergengsi di cabang olahraga bulutangkis telah sukses dihelat di negeri kita.

Cabang olahraga bulutangkis memang layak untuk disebut 'sangat Indonesia', mulai dari sejarah prestasi para atlet nasional yang langganan menjadi juara di kompetisi internasional bahkan olahraga inilah yang mempersembahkan emas bagi bangsa ini di Olimpiade. Juga kalau kita melihat tradisi bermain bulutangkis di bangsa kita, lomba bulutangkis termasuk perlombaan yang sering kita lihat di mulai di level antar RT ataupun kampus-kampus. Juga cukup mudah di masyarakat kita untuk menemukan lapangan bulutangkis. Namun kita semua tahu bagaimana prestasi bangsa kita yang diwakili oleh atlet-atlet nasional pelatnas bulutangkis kita. Tak satupun gelar juara kita peroleh.

Puasa gelar di Indonesia Open inipun bahkan sudah terjadi selama tiga tahun. Terakhir kita meraih juara tahun 2008 melalui Sony Dwi Kuncoro ditunggal putra dan Vita/Liliyana Natsir di ganda putri. Setelah itu, hingga kini para atlet wakil bangsa belum pernah lagi mempersembahkan gelar juara di kompetisi tersebut.

Bukan hanya di kompetisi ini, dalam ranking pemain bulutangkis dunia saat ini kita hanya di posisi ketiga untuk cabang tunggal putra yaitu Taufik Hidayat dibelakang pemain Malaysia dan China, juga posisi kedua untuk ganda Campuran Tantowi/Liliana dibelakang pasangan dari China.
Lemahnya prestasi nasional bukan hanya di olahraga bulutangkis, bahkan yang lebih ramai dibicarakan adalah prestasi sepakbola kita. Masih kuat dalam ingatan kita bagaimana salah satu rekan sebangsa kita, Hendri Mulyadi, masuk ke lapangan ketika Tim Nasional kita sedang mengalami kekalahan 1-2 dari Oman dalam Kualifikasi Piala Asia.

Kelemahan-kelemahan ini biasanya mengundang komentar dan kritik kita, bahkan sebagian besar bernada ejekan. Tak lupa juga harapan agar orang-orang yang memiliki posisi penting dalam cabang-cabang olahraga tersebut untuk mengundurkan diri. Banyak juga ide atau skenario yang kita keluarkan untuk menghilangkan kelemahan tersebut dan meraih kejayaan di cabang-cabang olahraga terkait. Dalam ide atau skenario itupun seringkali kita menganggap bahwa kondisi atau fasilitas nasional bukan faktor utama bagi kesuksesan cabang-cabang seperti bulutangkis atau sepakbola.

Lalu bagaimana dengan lapangan kita (sebagai pelajar)?

Satu hal yang kadang kita terlupa, bahwa kita sendiri pun punya lapangan bermain sendiri. Lapangan yang dalam konteks kebangsaan, di bidang itu kita masih sangat lemah, dan untuk lapangan itu sebenarnya kita bisa lebih berbuat atau berkontribusi besar karena meski tak secara resmi kitalah atlet nasional untuk bidang-bidang tersebut. Meskipun tak ada pemusatan pelatihan, namun kita adalah salah satu anggota PELATNAS untuk bidang-bidang yang kita geluti saat ini, karena ke-atlet nasional-an kita bukan dilihat dari posisi geografis namun potensi kontributif untuk bidang tersebut bagi bangsa Indonesia dimanapun kita berada.

Kalau kita geram dengan prestasi para atlet China yang dengan mudah mengalahkan atlet bulutangkis kita plus ada sedikit kekecewaan pada atlet dan official kita, lalu bagaimana prestasi kita dibanding para peneliti-peneliti dari China untuk bidang kita ? Bagaimana status persaingan kita sebagai ilmuwan untuk melahirkan 'enabling technology', teknologi yang bisa membuat bangsa masing-masing bisa lebih berdaya. Kritikan dan komentar kita pada berbagai cabang tersebut sebaiknya secara praktis kita arahkan ke 'lapangan kita', tentu dengan menjaga sifat kritis dan kesadaran perlunya saling mengingatkan sesama elemen bangsa. Yang jelas, kalau untuk berbagai bidang lain kita hanya bisa mengatakan 'seandainya dia', maka kalimat 'seharusnya saya' bisa lebih bermanfaat dan kita lebih berkuasa melaksanakannya.

Sebagai anak bangsa yang mendapat amanah untuk berguru dan menimba pengalaman di salah satu negeri adidaya seperti Jepang, perasaan dan kesadaran bahwa kita adalah 'atlet nasional' di bidang masing-masing sepertinya perlu untuk semakin kita perkuat. Dengan berbagai kekurangan sistem Pendidikan Nasional, kita mampu melaluinya sejak tingkatan dasar, menengah, bahkan sebagian kita menikmati pendidikan di sekolah tinggi ternama Indonesia yang semakin menjadi kesempatan ekslusif bagi anak bangsa secara umum. Lalu kitapun mendapat kepercayaan untuk belajar di negeri Jepang ini dengan segala fasilitas dan potensinya. Sangat wajar bila bangsa ini mewakilkan tugas perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang kepada kita sebagai 'atlet nasional'.

Senior-senior kita di berbagai bidang telah membuktikan dan mewakili kita dengan memberi kontribusi di bidang mereka masing-masing, namun sepertinya terlalu tergesa-gesa bagi kita untuk puas dengan prestasi senior-senior tersebut dan menikmati nama baik komunitas Pelajar Indonesia di Jepang karena prestasi mereka. Dengan potensi dan lingkungan yang kondusif, serta kebersamaan kita untuk saling mengingatkan, mendukung, dan berbagi semangat semoga komunitas Pelajar Indonesia di Jepang semakin banyak melahirkan kontribusi dan prestasi di berbagai bidang yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Topan Setiadipura
'Atlet Nasional' Cabang Teknik Nuklir (gak lulus jadi Atlet Bulutangkis)
Mahasiswa Doktoral (D1), Nuclear Engineering, Tokyo Institute of Technology
Ka Bidang Internal PPI Jepang 2010/2011

Web Statistics

Articles View Hits
1271672

Radio PPI Dunia


Advertisement

JAC-Recruitment

Recruitment

Sekretariat PPI Jepang

在日インドネシア留学性協会
Tokyo Indonesian Embassy (インドネシア大使館)

5-2-9 Higashigotanda, Shinagawa-ku Tokyo
(〒141-0022 東京都品川区東五反田5-22-9)
Phone: +81-(03)-3441-4201    

Email:  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
URL: http://www.ppijepang.org

Akun Bank PPI Jepang

Akun: Zainichi indonesia ryu-gakusei kyo-kai


Nama Bank: Japan Post Bank
Nama Cabang: Zero Ichi Hachi Ten

No. Rekening: 8568385
No. Cabang: 10190
Bangou: 85683851

Go to top