Berikut reportase yang dibuat oleh saudara Fithra Faisal Hastiadi pada kuliah Umum Profesor Ginanjar Kartasasmita Senin, 21 Februari 2011 di KBRI dengan tema Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.
Selamat menikmati.
Harapan untuk Indonesia yang Lebih Baik
Sepanjang pemaparannya, Profesor Ginanjar lebih banyak bercerita mengenai kondisi umum bangsa Indonesia. Dalam prolognya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia kini telah berubah dan berkembang menjadi negara yang lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari indikator-indikator kesejahteraan yang menunjukkan tren peningkatan. Terlepas dari polemik yang melanda keabsahan data-data tersebut, setidaknya data ini bisa sedikit mengkonfirmasi terjadinya trasnformasi Indonesia yang mencakup aspek-aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya ujarnya seraya menunjukkan mimik serius.
Dalam hal hubungan kerjasama Indonesia-Jepang, beliau menuturkan bahwa Indonesia telah menjadi partner yang sederajat. Hubungan sub-ordinasi yang telah berjalan selama puluhan tahun sudah selayaknya ditinjau ulang. Dalam beberapa kesempatan bermuhibah dengan pejabat-pejabat di Jepang, beliau selalu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah partner strategis dari Jepang dan tidak lagi membutuhkan belas kasihan. Official Development Assistance (ODA) (bantuan utang luar negeri dengan bunga ringan dan masa jatuh tempo yang panjang-red) pun sudah tidak layak lagi diterima Indonesia. Dengan tingkat pendapatan perkapita yang hampir menyentuh US$3000 telah menyiratkan naiknya derajat Indonesia. Pola kerjasama Indonesia-Jepang diharapkan bisa beredar pada sektor perdagangan dan investasi, dimana kedua sektor ini merupakan mesin yang dapat menggiatkan perekonomian diantara dua negara ini. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa Jepang memiliki kepentingan untuk melihat ASEAN, khususnya Indonesia untuk menjadi lebih kuat dan makmur, demi terciptanya stabilitas di wilayah Asia Timur.
Tatkala bertutur mengenai aktor-aktor yang berperan dalam kerja sama Indonesia-Jepang, setidaknya beliau mengidentifikasi dua aktor utama yaitu pemerintah dan swasta. Dalam hal ini, Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator sementara swasta lebih berperan ke masalah teknis. Dari sinilah kemudian governance ini didefinisikan secara utuh, yaitu seni memainkan peran. Pemerintah sebagai wasit, sangatlah tidak elok jika ikut serta turun dalam permainan, sebaliknya pihak swasta tidak perlu menguras energi untuk menciptakan peraturan dan berperan menjadi wasit.
Berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM), Profesor Ginanjar mengharapkan agar sektor swasta Jepang bisa membaca keandalan SDM Indonesia yang multi talenta untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pemberian beasiswa untuk SDM unggul Indonesia. Dengan demikian tambahnya lagi, pelajar Indonesia lulusan Jepang bisa menjembatani kebutuhan akan SDM berkualitas yang dapat memajukan hubungan ekonomi antara Jepang dan Indonesia, sehingga kesinambungan pertumbuhan ekonomi di masa depan bisa terjamin.
Salah satu peserta diskusi menyampaikan pandangan pesimisnya mengenai prospek Indonesia di masa mendatang berbekal dari moral para politisi yang terus terdegradasi. Dengan penuh semangat Profesor Ginanjar menjawabnya dengan sebuah pernyataan kunci. Masa depan Indonesia berada di tangan anda rekan-rekan mahasiswa cendikia. Cendikiawan adalah elit yang merupakan komponen terpenting bangsa dalam menciptakan dinamisasi kebangsaan. Bahwa era reformasi terkesan lebih buruk dibanding orde baru, hal ini terjadi karena semakin mudahnya informasi diakses oleh publik. Beliau kemudian memberikan contoh mengenai korupsi. Korupsi pada zaman orba terlihat sangat sedikit, karena memang pelaku korupsi dan tindakan korupsi sulit atau bahkan tidak dapat tercium oleh masyarakat. Di era reformasi, korupsi lebih mudah untuk dideteksi, sehingga kesan yang ditimbulkan adalah semakin banyaknya pelaku korupsi. Padahal yang nyatanya terjadi adalah semakin banyaknya tindakan korupsi yang terungkap dan diperkarakan. Ini merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Beliau kemudian melanjutkan bahwa demokrasi di era reformasi merupakan sebuah sistem yang jauh lebih baik daripada sistem otoriter di era orde baru dan orde lama. Sebagai negara baru belajar menerapkan sistem ini, Indonesia mungkin tidak akan mencapai hasil yang baik di jangka pendek, tetapi demokrasi akan menemukan bentuknya dan menuai hasilnya pada jangka panjang, karena sejatinya demokrasi membutuhkan learning curve yang cukup panjang. (FIT)






